Kalau Urang Banjar Asli, Pasti Sering Begini!


Setiap suku di Indonesia yang beragam ini mempunyai ciri khasnya sendiri-sendiri. Tidak ketinggalan pula suku Banjar yang ada di Kalimantan Selatan. Mau tau apa saja kebiasaan yang menjadi ciri khas ini?

1.      Gengsi pakai mantel / jas hujan


Walaupun sudah tau sedang musim hujan dan sudah sedia jas hujan, tetap saja Urang Banjar itu enggan memakainya. Lihatlah dijalanan, yang memakai mantel hanya beberapa saja dan sisanya hanya memakai jaket.
Katanya sih malas mau pakai, atau mungkin barangkali malu ya? Gengsi mungkin kata yang lebih tepat, karena kalau memakai jas hujan itu bisa terlihat jadi jelek. Apalagi kalau mantel jas hujannya juga jelek karena tidak pernah dipakai atau dibersihkan, atau bermodel ponco, jas hujan yang berbentuk seperti kelelawar. Malu terlihat seperti orang-orangan sawah. Ngaku?

2.      Setiap orang yang jualan pasti dipanggil Paman atau Acil

Ini juga menjadi khasnya Urang Banjar. Siapapun yang berjualan, dimana pun berjualannya, entah di pameran Expo, sekolahan, tempat wisata, atau bahkan di pasar sekali pun, yang berjualan itu adalah Paman jika laki-laki, dan Acil jika perempuan. Panggilan ini sering kali tidak memandang bulu umur penjual, mau yang jual lebih muda dari yang membeli atau sebaliknya, tetap saja panggilan Paman dan Acil ini lengket di mulut Urang Banjar. Mau beli pentol? Panggil dulu – Uy Paman!

3.      Kalau sudah ngumpul, bicaranya cepat dan dengan suara keras

Aduh, ini sudah pasti sekali. Mau kumpulnya sama teman kantor, teman sekolah, teman sekampung, keluarga besar, sama siapa saja rasanya tidak bisa dengan santai. Sapa menyapa dengan panggilan yang keras, dan nostalgia dengan bahasan-bahasan yang dibicarakan dengan super cepat. Tidak ada satu mili pun tempat yang tenang kalau ada yang kumpul-kumpul.


4.      Sehabis cuci tangan setelah makan, langsung menyisir rambut dengan tangan


Salah satu alasan rambut Urang Banjar bagus itu adalah ini. Mineral-mineral dan vitamin untuk rambut itu berdasarkan dari bahan alami, dari bekas sisa aroma makanan yang dimakan, hahaha. Ada yang memang masih berpikir seperti ini da nada juga Cuma karena tidak menemukan lap tangan atau tisu untuk mengeringkan tangannya. Jangan salah ya, menyapukan tangan ke rambut setelah makan juga merupakan warisan budaya dari nenek moyang.

5.      Kalau pas makan, kakinya harus begini


Ngaku pasti sering begini, merasa bebas, lepas dan menjadi diri sendiri. Posisi ini entah kenapa menjadi yang paling nyaman ketika makan dimana pun berada. Di daerah Banjar pun walaupun ada di warung makan, mengangkat lutut kaki bukan menjadi masalah, tidak usah takut dibilang tidak sopan atau sejenisnya. Mungkin sejenak ini hal yang lumrah jika warungnya lesehan, meskipun warung ini pakai bangku panjang, kalau memang mengerti asli Urang Banjar, pasti maklum dengan posisi makan mengangkat kaki ini. Ya, karena aslinya suku Banjar ya begitu.

Begitulah beberapa kebiasaan khas yang asli suku Banjar. Masih kurang ya? Share tambahan lainnya...

Comments